Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2019

Suara Karsa #3 : Terima Kasih

Terima Kasih Kala malam menjelma aksara bernada Aku beralah Mengutip satu persatu karsa Menuang semua cerita Menempa karya Mengolah rasa Menyadari arti dari punah Melupakan makna dari pernah Bayangmu kini menjelma perlina Berurai bercerai dalam jarak Luluh tak berupa Terima kasih untuk rasa yang kau cipta Untuk masa yang kau sita Untuk asa yang kau sia

Suara Karsa #2 : Aku Heran

Aku Heran Aku heran Mengapa orang mendamba senja Ia menutup hari dengan gemerlap jingga Menggariskan jelas batas antar penat Memeluk hari menyingkap gelap Aku heran Mengapa aku mendamba fajar Damai namun menyilau Menyapa waktu merawat asa Mengasihi raga mengantar sukma Aku heran Mengapa mereka mengelakkan pagi Ia datang membawa seri Pengingat murni penyambung sinergi Yang menyapa setiap hati "Berjuanglah wahai penyokong negeri!"

Suara Karsa #1 : Jingga Langit Jakarta I

Jingga Langit Jakarta I /I/ Jingga menjungkar Mentari menyemburat Gelap meuju koda Ratangga sesak Jalan mulai padat Klakson bersiul manja Bahu itu mulai bersambat Nada – nada tercekat Semangat tersendat /II/ Jingga ke Jingga Batavia Panas Polusi menyapa Beban fikir menambah Senyum sapa tak lagi ada Gaung sambat terasa Asa dan rasa diolah tuk dicipta Tubuh terlunta memikul beban negara Berhati melangkah menjaga Hingga Jingga bertemu jingga di esok nyata /III/ Jingga menyala Mentari pulang Gelap tiba Ka-er-el kembali runyam Kolong flyover menyala Jalur merah putih memendar Wajah muram semakin muram Mulut mulai bosan menyambat Tubuh tersisa balung dan penat

Catatan Ahnaf #2 : Surakarta

Jika Jakarta adalah hal yang ku ambisikan dan kurindukan. Maka Surakarta adalah tempat pelarian terindah dari Jakarta. Setidaknya itu yang kurasakan. Inilah Catatan Ahnaf #2 : Surakarta. Kota ini memang tidak sespesial Jakarta. Bahkan jauh dari kata mirip Jakarta. Matahari lebih dendam dengan kota ini ketimbang Jakarta. Terik dan silaunya lebih menyengat disbanding Jakarta, mungkin karena kabut polusi Jakarta tidak ada disini. Kota ini tidak sepenuhnya kota, namun juga tidak bisa dibilang pedesaan. Macet juga hadir di kota ini, menyatu dengan jiwa jiwa suntuk yang bosan dengan rutinitas mereka. Hanya macet di kota ini bukanlah macet Jakarta, jika Jakarta macet karena banyaknya mesin, kota ini macet karena kurangnya jalan. Namun kota ini memiliki apa yang Jakarta tidak punya, yaitu masyarakat yang masih menyatu dengan keluhurannya. Aku datang ke kota ini karena sebuah ketidaksengajaan yang akhirnya kupaksakan sebagai sebuah kesengajaan. Pertemuan dengan kota ini adalah sebuah...

Catatan Ahnaf #1 : Perihal Jakarta

"Aku merindukanmu “Jakarta”’ itulah kata yang mungkin sering ku rapal. Bukan tanpa alasan. Bagiku Jakarta adalah kesakralan. Mengapa demikian?. Welcome to Catatan Ahnaf #1 : Perihal Jakarta. Menyoal Jakarta berarti juga menyoal segala pelik runyam urusan kotanya, setidaknya banyak ahli yang mendogmakan itu di televisi. Namun, bagiku menyoal Jakarta berarti mengutarakan semua rasa, cita, asa yang terperangkap dalam jenuhnya tempo Batavia, yang terbawa dalam gerbong ka-er-el padat commuter pada pagi dan sore hari, yang tertinggal dalam halte tije yang menunggu bus datang dan pergi, yang turut serta dalam setiap asam arang yang tersengal dalam merayapnya jalan. Jakarta bermuka dua yang memberi asa dan duka kepada siapa saja yang diinginkannya, yang membuat iri para aktivis penolak jakartasentris yang menunggu daerahnya di kembangkan. Jakarta itu kompleks. Namun, dikala orang bersambat ria tentang kota ini, aku malah berlaku sebaliknya. Jakarta merupakan salah satu hal yan...