Langsung ke konten utama

Catatan Ahnaf #2 : Surakarta

Jika Jakarta adalah hal yang ku ambisikan dan kurindukan. Maka Surakarta adalah tempat pelarian terindah dari Jakarta. Setidaknya itu yang kurasakan. Inilah Catatan Ahnaf #2 : Surakarta.
Kota ini memang tidak sespesial Jakarta. Bahkan jauh dari kata mirip Jakarta. Matahari lebih dendam dengan kota ini ketimbang Jakarta. Terik dan silaunya lebih menyengat disbanding Jakarta, mungkin karena kabut polusi Jakarta tidak ada disini. Kota ini tidak sepenuhnya kota, namun juga tidak bisa dibilang pedesaan. Macet juga hadir di kota ini, menyatu dengan jiwa jiwa suntuk yang bosan dengan rutinitas mereka. Hanya macet di kota ini bukanlah macet Jakarta, jika Jakarta macet karena banyaknya mesin, kota ini macet karena kurangnya jalan. Namun kota ini memiliki apa yang Jakarta tidak punya, yaitu masyarakat yang masih menyatu dengan keluhurannya.
Aku datang ke kota ini karena sebuah ketidaksengajaan yang akhirnya kupaksakan sebagai sebuah kesengajaan. Pertemuan dengan kota ini adalah sebuah anomali yang membawa keberuntungan. Aku datang ke kota ini dalam pengasingan yang mendamaikan. Dengan satu cita – cita nyeleneh yakni menjelma mataram dan menyatukannya. Walau saat ini aku menyadari menyatukannnya merupakan hal yang mustahil. Namun, pada akhirnya tujuanku menjadi Mataram itu benar benar ku lakukan. Aku mencoba menjelma mataram yang membuat ku semakin menganomali, di Batavia aku menjadi Batavia, di Mataram aku menjelma Mataram.
Kota ini mengajarkan ku banyak hal. Tentang solidaritas, tentang arti sebenarnya dari kekompakan dan persaudaraan, tentang kesendirian, tentang keingintahuan, dan tentang banyak hal lain. Kota ini membawa ku mencari arti dari diriku, tentang pertanyaan paling sepele namun krusial, yakni tentang siapa aku.
Dalam sepi dan teka – teki kota ini memberi arti, Kota ini membuat ku sejenak melupakan Jakarta. Bisa dibilang kota ini merupakan pengasingan terbaik, yang damai namun tidak membuat kehilangan ramai. Yang diam namun memberi harapan. Dan mungkin kota ini menjadi tempat dimana aku menaruh rasa dalam doa dan peraduan. Setelah untuk sekian waktu ia hanya berdiam membisu di dermaga Jakarta.
Jika disimpulkan, maka Surakarta adalah halte singgah yang membuatku nyaman dan bertumbuh, namun senyaman apapun tempat singgah tetap tempat singgah yang mana kita harus tetap melanjutkan ke tempat tujuan.

Komentar

  1. akan update lagi nggak? tulisanmu bagus, aku suka.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Random Stuff #1 : Percakapan Kecil Kala Itu

P ercakapan Kecil Kala Itu :Aku akan pergi… jauh dari sini :Dan kembali ke tanah leluhurmu ? :Tidak ***, Aku seperti tidak memiliki tanah leluhur, Aku menjadi jakarta di jakarta, menjadi sunda di tanah pasundan, menjadi jawa bila ku di tanah mataram  sepertinya ibu pertiwi lah tanah leluhurku, aku adalah anomali. :Lalu apa yang harus kulakukan selagi kau pergi :Tunggulah aku, di Jakartaku :Bukankah hanya ada satu Jakarta di dunia ini ? :Tidak, kau memiliki Jakartamu sendiri, yang mungkin saat aku pergi nanti sudah tak ada aku lagi disana :Dan mengapa harus di Jakarta ?. Bukankah aku bias menemuimu di penngasinganmu yang mungkin beribu kali lebih indah dari Jakarta ? :Jakarta… adalah dimana aku menemukanmu   Jakarta adalah dimana aku menjadi diriku  Jakarta adalah bagian yang hilang dari serpihan kisahku  Jakarta adalah kepompong yang membuat ulat berubah menjadi kupu yang indah  Jakarta adalah kamu, Jakarta adalah kita :Dan apa yan...

Prologue

Hai Guys, Wlcome to my blog. For you were asking “What the Bolg is this?”. Jawabannya adalah This is all of me and my note. Di blog ini gw bakal membahas apa aja yg ada di catatan gw. Buat lu lu pada yg blom kenal sama gw. First i want to introduce my self.My name is Amadeo “Edyson” Ahnaf. Seorang anak jakarta (sebenernya sih anak tangerang) yg terdampar di asrama man 1 surakarta. Dan yg paling keren dia adlah remaja biasa.                 Ok i think its all, So keep read my blog and bye bye